Sabtu, 15 Oktober 2011

Pelatihan Menyusun Kurikulum LifeSkill

Menjadi "sekolah yang tak biasa" adalah "hal luar biasa" bagi kami. Mengimbangi tuntutan untuk mewujudkan Jingga sebagai sekolah luar biasa inilah, kami para guru harus meng-upgrade kwalitas diri. Berusaha menjadi guru yang profesional.

Berbagai ide kreatif yang diterjemahkan pada tataran rancangan program hingga pelaksanaannya dapat diperoleh melalui pelatihan-pelatihan. Kali ini pelatihan guru berangkat dari kebutuhan akan sebuah sebuah acuan  tentang pelaksanaan life skill di KBM (materi pelatihan bisa diminta via email).

Dengan bimbingan dari Pak Sahroni, kami membuat beberapa rancangan yang mengacu pada proporsi kurikulum yang 70% lifeskill dan 30% akademik. Berikut ini hasil pelatihan guru-guru Jingga:
1. Lifeskill dibagi menjadi 4 bidang (yang bisa dipilih) Pengobatan Islam, Menulis Kreatif, Desain Grafis, dan Klub Bahasa Inggris.
2. Ekstrakurikuler dirancang untuk menghasilkan produk/jasa dan bernuansa enterpreneur. Diantaranya, mengolah lele, kerajinan tangan, dan barber shop. 
3. Perlu diadakan studi banding ke sekolah-sekolah yang mempunyai program lifeskill dan menjalankannya dengan baik.
4. Guru yang bertanggung jawab pada lifeskill tertentu harus mengikuti pendidikan khusus agar mereka bersertifikat, terstandar, dan layak disebut sebagai profesional. 

Bu Riesa sedang membacakan hasil resumenya.

Pak Sahroni menyimak.

Suasana pelatihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar