Rabu, 26 Oktober 2011

Investasi Pendidikan

Pengantar
Jalan menuju sekolah 200 m masih tanah
dan hanya bisa dilewati motor.
Pendidikan selalu menjadi investasi yang tidak pernah kenal  kata “merugi”. Semua pihak yang urun rembuk dalam bidang ini merupakan kumpulan manusia yang memiliki kesadaran tinggi akan arti masa depan. Selain dikarenakan out putnya (keberhasilan belajar; belajar = perubahan sikap dan  tingkah laku),  proses yang terjadi di dalamnya menuntut  kreativitas yang tinggi dari para pelakunya.
Ranah-ranah yang bersinggungan dalam dunia pendidikan menjadi faktor yang harus senantiasa diperhitungkan agar tujuan yang telah dicanangkan tercapai tepat sasaran. Selain itu, diperlukan pula kerjasama yang baik dan tentu saja kesamaan visi dan misi dalam praktiknya. Dengan demikian, investasi pendidikan menjadi gerakan massif progressif yang manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat luas dalam jangka waktu yang panjang. Kesadaran semacam ini terlihat di beberapa lembaga pemerintah maupun non pemerintah, di dalam maupun luar negeri.

Melihat peluang pembuatan kolam lele.
Mencermati hal-hal tersebut, Jingga Foundation yang menaungi SMP Terbuka Jingga Lifeschool berusaha menangkap peluang dari para investor pendidikan. Konsolidasi internal berupa perbaikan sistem dan kinerja, pemantapan visi-misi, dan penyusunan program-program riil yang kemanfaatannya tepat pada kebutuhan anak didik dilakukan secara simultan. Usaha ini dilakukan agar peluang yang diperoleh nantinya dapat dijalankan secara profesional dan memuaskan semua pihak. Kegiatan peningkatan mutu Jingga Lifeschool dapat diperoleh di www.jinggalifeschool.blogspot.com

Berawal dari Kebutuhan
Siswa Jingga Lifeschool hampir seluruhnya berasal dari keluarga tak mampu. Kehidupan ekonomi yang di bawah standar kelayakan dan pencapaian akademik yang rendah membuat mereka tak  bersekolah di SMP Negeri atau pun swasta di sekitar wilayah tinggalnya. Realita ini sering kali bertalian dengan kepercayaan diri, mimpi, dan cita-cita yang rendah. Seolah tak ada masa depan cerah bagi mereka. Seolah mereka sadar bahwa lingkar kemiskinan  harus diputus siklusnya, namun entah harus dimulai dari mana.

Latar kehidupan beragama dan etos kerja orang tua sebagai panutan pun menjadi faktor dominan yang memengaruhi percaya diri, semangat belajar, dan pandangan kehidupan juga masa depan siswa. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus  untuk menjawab masalah-masalah ini karena keberhasilan pendidikan siswa  berkaitan erat dengan latar belakang kehidupan sosial ekonomi agama orang tua mereka. Terlebih, porsi waktu yang dihabiskan anak-anak lebih banyak  di rumah tinimbang sekolah.  Maka, program-program kedepan juga melibatkan pembinaan mental keagamaan, sosial, dan etos kerja wali murid sehingga mereka mampu bangkit dari keadaan yang serba kekurangan menjadi  warga masayarakat yang turut membangun lingkungan. Diharapkan para orang tua ini menjadi komunitas yang mencerdaskan dan menularkan semangat kebaikan pada keluarga terdekat dan lingkungan sekitar.

Program Lifeskill
Lifeskill atau Pendidikan Kecakapan Hidup dinyatakan oleh Depdiknas (2002) kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

Adapun Tujuan Pendidikan Kecakapan Hidup ini adalah:
       menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan bermakna bagi peserta didik sehingga mereka bisa menikmati pembelajaran dan bertahan untuk menyelesaikan pendidikannya;
       mengembangkan pemilikan kecakapan personal sosial sehingga terinternalisasi sebagai ciri/ karakteristik pribadi yang sehat;
       Mengenalkan peserta didik dengan dunia pekerjaan, melatih tanggung jawab, dan kepemimpinan melalui latihan mengelola proyek kecil;
       Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menguji cobakan dan mempraktikkan keterampilan-keterampilan yang relevan dengan kondisi lokal;
       Menumbuhkan minat dan bakat peserta didik dalam pekerjaan dan kewirausahaan.

Program Lifeskill ini digulirkan untuk menjawab kebutuhan siswa Jingga Lifeschool akankelanjutan pendidikan,  konsep diri, pandangan hidup, dan kemampuan juga keterampilan yang menunjang peningkatan kualitas hidup mereka kelak. Secara  proporsi, pembelajaran yang dilakukan selama lima hari efektif belajar adalah 60 % Pembelajaran Lifeskill dan 40 % akademik(menggunakan kurikulum Dinas Pendidikan)
Menempati  jatah terbesar dalam praktik belajar mengajar tidak membuat pembelajaran akademik terpinggirkan. Para guru dilatih untuk menyusun Program Pembelajaran  Lifeskill yang mengaitkan 4 pelajaran yang akan di-UN-kan, yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa inggris, Sains, dan Matematika.
Lifeskill yang akan diajarkan kepada anak (optional berdasarkan minat dan bakat) adalah:
1.      Kelompok Penulisan Kreatif
2.      Kelompok Pengobatan Islam
3.      Kelompok Design Grafis
4.      Kelompok Enterpreneur Muda

Keempat program lifeskill ini dirancang untuk saling mendukung. Sinergi  yang runtun diharapkan memunculkan kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan dari peserta didik Jingga Lifeschool hingga mereka mempunyai “nilai tambah” dari sekadar lulusan sebuah SMP Terbuka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar