Sabtu, 15 Oktober 2011

Perubahan menuju Profesionalisme

Sudah sunnah dalam memperjuangkan kemajuan akan ada yang diubah. Perubahan ini terkait  sistem, kinerja, dan sarana. Bersamaan dengan ketiganya maka bukan mustahil, beberapa elemen akan bergesekan karena perubahan bukanlah sesuatu yang melulu menyenangkan. Ada kalanya harus memacu diri menjadi faster learner tapi ada kalanya mereka yang terlibat di dalamnya enggan masuk dalam kancah pembinaan dan peningkatan kualitas.


Friksi yang kerap muncul pun sebaiknya diselesaikan dengan cara saling mengingatkan kembali tujuan awal melakukan "perubahan". Jika zona nyaman masih menjadi pilihan, maka yakin sepenuhnya, kata "perubahan menuju kemajuan" hanya berhenti pada tataran linguistik saja. Tidak hanya itu, kemungkinan perpecahan akan muncul. Pikiran-pikiran positif dan negatif akan berperang dan menjadi virus di dalam hati-hati pelakunya.


Saya pribadi (admin) berharap, semoga segala jenis "tagihan" menuju progress Jingga mandiri 2015 menjadi anggapan yang menyenangkan, membahagiakan, dan menantang. Semoga (jika pun ada) rasa takut dan syak wasangka yang bermain di benak kita, tersingkirkan dengan bukti-bukti kebesaran Allah SWT melalui respon yang amat besar dari para donatur dan terjawabnya do'a-do'a kita melalui terpenuhinya segala fasilitas sekolah.
Bergerak menuju progresivitas tanpa batas. Allah...mampukan kami :)

Hal yang penulis sebut di atas sangat erat kaitannya dengan profesionalisme. Semoga kita mewujud menjadi individu dan kelompok yang profesional seperti halnya yang disampaikan oleh Muhammad Rizqon dalam artikelnya di Era Muslim yang penulis kutip di sini:

Namun Islam memerintahkan untuk profesional, profesional untuk semua urusan. Sandaran hal ini bisa ditemukan dalam sebuah hadits mengatakan bahwa ‘Sesungguhnya Allah mewajibkan Ihsan atas segala urusan’. Ya, segala urusan. Hal ini diperkuat dengan sebuah hadits yang mengatakan bahwa menyembelih hewan kurban pun harus dilakukan secara ihsan atau profesional. Bukan mentang-mentang hewan kurban itu akan mati, maka menjelang penyembelihan mereka dibiarkan lapar, tidak menyantap daun-daun yang segar, atau kita bisa menyembelihnya dengan pisau yang ala kadarnya tanpa memastikan bahwa pisau itu cukup tajam sehingga tidak akan menyiksa sang hewan kurban. Sebaliknya, Nabi Saw menganjurkan agar sebelum penyembelihan, hewan kurban digembirakan dengan makanan yang baik. Dan ketika disembelih, pisau yang digunakan adalah pisau yang sangat tajam.
Pekerjaan yang tidak dilakukan secara Ihsan, maka yang timbul adalah bencana. Oleh karena itu kita mafhum dengan sebuah hadits bahwa “barang siapa suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya”. Ahli di sini tidak semata-mata karena ia memiliki kompetensi tetapi juga memiliki integritas (kejujuran). Apalah artinya suatu urusan dikerjakan oleh orang yang berkompeten tetapi ia tidak jujur. Yang timbul adalah bencana. Jalan-jalan yang cepat rusak, jembatan yang tiba-tiba ambruk, bendungan yang tiba-tiba jebol, pesawat yang tiba-tiba mengalami kecelakaan, dan segala bencana yang berunsur kesalahan manusia (human error).

Ihsan adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan kualitas hasil pekerjaan. Tidak semata didasarkan oleh etika profesi tetapi yang jauh lebih penting didasarkan oleh etika Ilahi. Dengan mendasarkan pada etika Ilahi ini, Insya Allah hasil yang dicapai akan maksimal karena dilandasi oleh kejujuran dan pengawan langsung dari Allah SWT.
Jika profesional kita maknakan dengan Ihsan, sesungguhnya setiap orang bisa mengerjakan segala hal secara profesional. Bukan cuma dokter, akuntan, insinyur atau profesional lainnya, tetapi juga pekerja lain seperti pedagang, kurir, porter, ibu rumah tangga, atau petugas sampah dan segala pekerjaan yang memiliki nilai manfaat bagi orang lain.
Dengan memahami makna profesional yang dikaitkan dengan makna ihsan tersebut, mudah-mudahan memacu kita untuk selalu mengerjakan suatu hal dengan cara yang terbaik atau sebaik-baiknya. Memang sulit untuk bisa profesional dalam segala urusan karena kita bukanlah orang yang sempurna. Namun setidaknya, kita selalu diingatkan untuk mencapai ke arah sana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar